Perguruan tinggi sebagai
penyelenggara pendidikan tertinggi selalu dituntut untuk memiliki dosen
sebagai pengajar yang berkualitas. Tidak seperti guru, seorang dosen
lebih diposisikan sebagai fasilitator pengembangan intelektual
mahasiswa. Permasalahannya, mahasiswa baru seringkali terjebak pada
lingkungan SMA dengan keberadaan guru sehingga kesulitan melakukan
pengembangan diri.
Demikian disampaikan Ketua Prodi
Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahim Abdurahim, SE.,
M.Si, Akt di sela-sela kegiatan Bridging Mahasiswa Akuntansi UMY
2011/2012, “Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant” yang berlangsung sejak 3 Desember 2011 hingga 21 Januari 2012 mendatang, di Kampus Terpadu UMY.
Menurut Ahim, berbeda dengan guru
sekolah yang benar-benar mengarahkan siswa, dosen lebih diletakkan
sebagai pemberi ilmu dalam perkuliahan, dan fasilitator saja. Mahasiswa
dituntut untuk tidak terpaku hanya pada apa yang diberikan oleh dosen di
kelas. Mahasiswa sepantasnya mengembangkan pengetahuan mereka di
berbagai sarana. “Dosen bukan segala-galanya. Logikanya, saat lulusan
perguruan tinggi diwawancarai untuk masuk kerja, bukan dosen yang
mewawancarai mereka. Mereka perlu referensi yang jauh lebih dari yang
ada di perkuliahan” terangnya.
Mahasiswa juga dituntut untuk mandiri
dalam memilih minat apa yang ingin mereka kembangkan.
Fasilitas-fasilitas non-kulikuler, himpunan mahasiswa misalnya, dibentuk
hanya sebagai sarana memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mahasiswa
untuk berekspresi. “Universitas hanya memberi sarana, mahasiswa harus
punya ide sendiri dalm mengadakan kegiatan seminar, lomba-lomba, atau
kegiatan lain. Softskill seperti ini mengantarkan mereka ke pintu dunia kerja”, jelasnya.
Salah satu pengembangan intelektual lain
menurut Ahim cukup berpengaruh terhadap dunia kerja adalah kemampuan
menulis menulis ilmiah. Menulis secara ilmiah menurutnya dapat mengasah
mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis dan logis. Di dunia kerja,
hal semacam itu merupakan kemampuan dasar. Ditambah lagi dalam membuat
keputusan secara akurat berdasarkan data yang akan ada dalam karya
ilmiah dan dunia kerja.
Terkait dunia kerja, Ahim menilai,
meskipun tugas dosen adalah sebagai pengajar di kelas, dukungan dosen
yang juga berpengalaman sebagai praktisi Akuntansi tetap diperlukan. Hal
ini dimaksudkan agar perkuliahan tidak terpaku pada teori saja,
sehingga mahasiswa memperoleh bayangan jelas. “Mahasiswa kedokteran saja
pengajarnya seorang dokter. Mustahil jika seorang calon ahli keuangan
daerah diajar oleh orang yang tidak tahu keuangan daerah itu seperti
apa”, tandasnya.
Bridging Mahasiswa Akuntansi, merupakan
program pengenalan dan penguatan kemampuan akademik serta softskill
menghadapi sistem dan lingkungan belajar yang baru. Dalam program ini,
para dosen akan memberikan sejumlah materi untuk tujuan tersebut,
seperti kemampuan penulisan ilmiah, diskusi, presentasi, etika akademik,
serta Bahasa Inggris.
sumber : umy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar